Jumat, 12 April 2024

NASIHAT USTADZ ADI HIDAYAT: Kalimat Nabi Yunus Untuk Mempercepat Doa Dikabulkan

Nasihat Ustadz Adi Hidayat kali ini menelaah kalimat indah dalam Al Quran yang diucapkan Nabi Yunus ‘alaihi salam (AS) yang bisa mempercepat doa dikabulkan.

Hot News

TENTANGKITA, JAKARTA – Nasihat Ustadz Adi Hidayat kali ini menelaah kalimat indah dalam Al Quran yang diucapkan Nabi Yunus ‘alaihi salam (AS) yang bisa mempercepat doa dikabulkan.

Menurut Ustadz Adi Hidayat, semua doa di Al Quran istimewa. Ada peruntukannya. Namun, ada salah satu ayat yang bisa memberikan inspirasi kepada kita. Dapat diterapkan di setiap kehidupan, termasuk ketika akan berinteraksi dengan A Quran.

“Doa ini tercantum di Al Quran surat ke-21, al Anbiya, ayat 87-88, pada kisah Nabi Yunus as,” ungkap Ustadi Adi Hidayat.

Ustadz Adi Hidayat menjelaskan ayat 83 sampai 84 surat al Anbiya bercerita tentang Nabi Ayub as, kisah Nabi Zakaria kemudian selanjutnya dibahas dalam ayat 85-86.

“Ayat 86-87 kemudian masuk ke kisah Nabi Yunus. La ilaha illa Anta, subhanaka inni kuntu minazh zhalimiin.”

Ustadz Adi Hidayat menganjurkan untuk dawamkan (biasakan) membaca doa tersebut termasuk kalau kita ingin berusaha, ingin berinteraksi dengan kebaikan.

“Kayak kita misalnya mau coba menghafal Quran. Kayak kita mau coba membaca Quran dengan baik. Atau kita coba misalnya mendapatkan kesuksesan dalam pekerjaan. Atau kita mengatasi gangguan dalam kehidupan…. Ini masuk semua.”

Kenapa? Karena ada tiga bagian di doa ini yang penting digarisbawahi.

Pertama, la ilaha illa Anta

Kedua, subhanaka

Ketiga, inni kuntu minadzh dzalimiin

Kalimat la ilaha illa Anta atau la ilaha illallah, menurut Ustadz Adi Hidayat, adalah dasar dari seluruh kehidupan.

“Dahsyatnya kalimat ini. Dari kalimat inilah kita tercipta. Dari kaimat inilah kita untuk diminta beribadah. Tujuan kita beribadah kepada Allah SWT untuk la ilaha illallah. Hadirnya kita di sini, hidup di dunia, la ilaha illallah.”

Jadi kalau kita berdoa menggunakan satu kalimat ini kepada Allah, seakan-akan kita mengatakan:

  • “Ya Allah, bukankah dengan kalimat ini, bukankan dengan kata ini aku dihidupkan untuk beraktivitas?
  • Bukankah dengan kata ini aku diminta untuk beribadah?
  • Bukankah dengan kata ini aku diminta berjuang sampai wafat?
  • Maka dengan semua keistimewaan di kata ini Ya Allah, mohon kabulkan, aku ingin meminta sesuatu.”

Lalu Ustadz Adi Hidayat menjelaskan pengertian tentang kata subhanaka yang bertujuan untuk menafikan semua yang tidak setara dengan sifat-sifat Allah, misalnya pandangan yang mengatakan Allah punya anak.

“Oleh karena itu ketika kita mengatakan subahaka (itu artinya), Ya Allah aku meyakini enggak ada Tuhan selain Engkau. Enggak ada yang sifati-sifat yang layak Engkau sandang kecuali apa yang Engkau sudah tetapkan.”

Penjelasan Ustadz Adi Hidayat berlanjut kepada butir ketiga yakni inni kuntu minadz dzalimin.

“Selama ini aku salah ya Allah. Aku mengatakan tuhan hanya Engkau, tapi aku kadang diperbudak dunia. Aku ikut sesembahan dunia, aku akhirkan ketika Engkau meminta. Engkau panggil aku shalat, aku mengikuti panggilan dunia.

Aku katakan subahaka, Engkau yang Maha Suci, Engkau yang Maha Esa, Engkau yang Maha Agung, tapi aku mengagungkan yang lain. Aku salah ya Allah.”

Kalau kita dawamkan doa ini dalam kehidupan maka kalimat yang indah ini, menurut Ustadz Adi Hidayat, akan mempercepat doa dikabulkan.

“Tahu dari mana ini semua, jawaban dari ayat selanjutnya, ‘Kami akan cepat jawab’ (kata Allah).”

NGAJI BUYA ARRAZY: Benarkah Imam Mahdi (Turun) dari Indonesia?

PROFIL USTADZ ADI HIDAYAT (UAH)

Ustadz Adi Hidayat (UAH), seperti disebut di laman seperti disebut di laman www.quantumakhyar.com, memulai pendidikan formal di TK Pertiwi Pandeglang tahun 1989 dan lulus dengan predikat siswa terbaik. Kemudian melanjutkan pendidikan dasar di SDN Karaton 3 Pandeglang hingga kelas III dan beralih ke SDN III Pandeglang di jenjang kelas IV hingga VI.

Di dua sekolah dasar ini dia juga mendapat predikat siswa terbaik, hingga dimasukan dalam kelas unggulan yang menghimpun seluruh siswa terbaik tingkat dasar di Kabupaten Pandeglang. Dalam program ini, dia juga menjadi siswa teladan dengan peringkat pertama.

Dalam proses pendidikan dasar ini, Adi Hidayat kecil juga disekolahkan kedua orang tuanya ke Madarasah Salafiyyah Sanusiyyah Pandeglang. Pagi sekolah umum, siang hingga sore sekolah agama.

Di madrasah ini, dia juga menjadi siswa berprestasi dan didaulat sebagai penceramah cilik dalam setiap sesi wisuda santri.

Tahun 1997, dia melanjutkan pendidikan Tsanawiyyah hingga Aliyah (setingkat SMP-SMA) di Ponpes Darul Arqam Muhammadiyyah Garut.

Ponpes yang memadukan pendidikan Agama dan umum secara proporsional dan telah mencetak banyak alumni yang berkiprah di tingkat nasional dan internasional. Di Ponpes inilah ia mendapatkan bekal dasar utama dalam berbagai disiplin pengetahuan, baik umum maupun agama.

Guru utama dia, Buya KH. Miskun as-Syatibi ialah orang yang paling berpengaruh dalam menghadirkan kecintaan dia terhadap al-Qur’an dan pendalaman pengetahuan.

Selama masa pendidikan ini dia telah meraih banyak penghargaan baik di tingkat Pondok, Kabupaten Garut, bahkan Provinsi Jawa Barat, khususnya dalam hal syarah al-Qur’an.

Di tingkat II Aliyah bahkan pernah menjadi utusan termuda dalam program Daurah Tadribiyyah dari Universitas Islam Madinah di Ponpes Taruna al-Qur’an Jogjakarta.

Dia juga sering kali dilibatkan oleh pamannya KH. Rafiuddin Akhyar, pendiri Dewan Dakwah Islam Indonesia di Banten untuk terlibat dalam misi dakwah di wilayah Banten.

Ustaz Adi Hidayat lulus dengan predikat santri teladan dalam 2 bidang sekaligus (agama dan umum) serta didaulat menyampaikan makalah ilmiah “konsep ESQ dalam al-Qur’an” di hadapan tokoh pendidikan M. Yunan Yusuf.

Tahun 2003, dia mendapat undangan PMDK dari Fakultas Dirasat Islamiyyah (FDI) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang bekerjasama dengan Universitas al-Azhar Kairo, hingga diterima dan mendapat gelar mahasiswa terbaik dalam program ospek.

Tahun 2005, dia mendapat undangan khusus untuk melanjutkan studi di Kuliyyah Dakwah Islamiyyah Libya yang kemudian diterima, walau mesti meninggalkan program FDI dengan raihan IPK 3,98.

TENTANG VARIAN OMICRON

Cucu Buya Hamka: Jangan Catut Nama Kakek Soal Fatwa Haram Mengucapkan Selamat Natal

STUDI DI LIBYA

Di Libya, Adi Hidayat belajar intensif berbagai disiplin ilmu baik terkait dengan al-Qur’an, hadis, fikih, usul fikih, tarikh, Lughah, dan selainnya.

Kecintaannya pada al-Qur’an dan Hadits menjadikan dia mengambil program khusus Lughah Arabiyyah wa Adabuha demi memahami kedalaman makna dua sumber syariat ini.

Selain pendidikan formal, dia juga ber-talaqqi pada masyayikh bersanad baik di Libya maupun negara yang pernah dikunjunginya.

Dia belajar al-Qur’an pada Syaikh Dukkali Muhammad al-‘Alim (muqri internasional), Syaikh Ali al-Liibiy (Imam Libya untuk Eropa), Syaikh Ali Ahmar Nigeria (riwayat warsy), Syaikh Ali Tanzania (riwayat ad-Duri).

Adi Hidayat juga belajar ilmu tajwid pada Syaikh Usamah (Libya). Adapun di antara guru tafsir dia ialah Syaikh Tanthawi Jauhari (Grand Syaikh al-Azhar) dan Dr. Bajiqni (Libya) Ilmu Hadits dia pelajari dari Dr. Shiddiq Basyr Nashr (Libya).

Dalam hal Ilmu Fiqh dan ushul Fiqh di antaranya dia pelajari dari Syaikh ar-Rabithi (mufti Libya) dan Syaikh Wahbah az-Zuhaili (Ulama Syiria).

Dia mendalami ilmu lughah melalui syaikh Abdul Lathif as-Syuwairif (pakar bahasa dunia, anggota majma’ al-lughah), Dr. Muhammad Djibran (pakar bahasa dan sastra), Dr. Abdullâh Ustha (pakar nahwu dan sharaf), Dr. Budairi al-Azhari (pakar ilmu arudh), juga masyayikh lainnya.

Adapun ilmu tarikh, dia pelajari di antaranya dari Ustaz Ammar al-Liibiy (Sejarawan Libya). Selain para masyayikh tersebut, dia juga aktif mengikuti seminar dan dialog bersama para pakar dalam forum ulama dunia yang berlangsung di Libya.

Di akhir 2009 dia diangkat menjadi amînul khutabâ, Ketua Dewan Khatib Jami’ Dakwah Islamiyyah Tripoli yang berhak menentukan para khatib dan pengisi di Masjid Dakwah Islamiyyah.

Dia juga aktif mengikuti dialog internasional bersama para pakar lintas agama, mengisi berbagai seminar, termasuk acara tsaqafah islâmiyyah di kanal At-Tawâshul TV Libya.

Awal tahun 2011 dia kembali ke Indonesia dan mengasuh Ponpes al-Qur’an al-Hikmah Lebak Bulus. Dua tahun kemudian dia berpindah ke Bekasi dan mendirikan Quantum Akhyar Institute, yayasan yang bergerak di bidang studi Islam dan pengembangan dakwah.

  • Demikan nasihat Ustadz Adi Hidayat tentang kalimat indah dari Nabi Yunus yang diabadikan dalam Al Quran yang bisa mempercepat doa dikabulkan. Ceramah lengkap bisa dilihat di TAUTAN INI

 

Temukan Artikel Viral kami di Google News
Artikel Terkait
Terpopuler
Terbaru

Pemerintah Indonesia Sambut Baik Kedatangan Paus Fransiskus

TENTANGKITA.CO, JAKARTA - Paus Fransiskus akan melakukan Kunjungan Kenegaraan ke Indonesia pada tanggal 3 – 6 September 2024.Indonesia akan...