Rabu, 6 Mei 2026

Bukan Cuma Sroto Sokaraja, The Banjoemas Bukti Kontribusi Alumni untuk Almamater Unsoed

Hot News

TENTANGKKITA.CO – “Wis mirip banget lah kayak nang Sokaraja,” begitu kata Dalu Agung Darmawan dalam bahasa Jawa yang terpengaruh dialek Banyumasan. Artinya: sudah mirip sekali dengan yang di Sokaraja.

Aslinya sih, Dalu Agung yang sekarang menjabat Sekjen Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) berasal dari Klaten, Jawa Tengah. Pengaruh logat Banyumasan—terkenal dengan istilah ngapak-ngapak—di lisannya itu karena Dalu Agung sempat kuliah di Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) yang berada di Purwokerto, ibukota Kabupaten Banyumas.

Sambil tetap menikmati suapan kuah soto Sokaraja—di daerah aslinya lebih dikenal dengan sroto, Direktur Keuangan PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Tbk, Catur Dermawan, yang duduk semeja dengan Dalu Agung menganggukkan kepala.

Kalau Dalu Agung tercatat sebagai alumni FISIP Unsoed tahun 1985, Catur adalah alumni Fakultas Ekonomi (FE) Unsoed tahun 1991. Berada di meja sebelah keduanya, Fernando Tua, lulusan FE tahun 1992 yang sekarang berkarier di Otoritas Jasa Keuangan (OJK), bersama Darsono dan M. Kisworo, keduanya juga berasal dari FE Unsoed.

Sroto Sokaraja itu yang juga menjadi bahan pembicaraan di meja lain.

“Gue jam 8 (malam) balik duluan ya. Besok pagi-pagi ada tugas,” kata Dirjen Perbendaharaan Kemenkeu, Astera Primanto Bhakti, yang merupakan alumni FE Unsoed tahun 1986.

St Eries Adlin yang jadi lawan bicara Astera melirik arloji di tangannya. Jarum jam sudah menunjukkan angka 19.56. Ires, panggilan akrab St Eries Adlin, adalah mahasiswa FISIP Unsoed angkatan 1986.

“Tanggung lah, bentar lagi. Udah di sini, gak nyobain srotonya,” kata Ires, wartawan yang lama berkiprah di Bisnis Indonesia dan sekarang mengelola tentangkita.co.

Karena sama-sama berasal dari Jakarta, percakapan Ires dan Astera lebih kental dengan gaya anak Jakarta tetapi tetap saja diselingi dengan idiom-idiom khas Banyumas. Ujung-ujungnya, Astera sepakat untuk menikmati dulu kuliner berkuah yang kental dengan bumbu kacang.

Sekitar 80 orang alumni Unsoed itu pada Selasa malam, 5 Mei 2026  berkumpul di The Banjoemas Resto & Cafe yang berlokasi di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat. Ceritanya, para ‘murid’ Jenderal Soedirman sedang test food tempat makan yang mereka bangun. Salah satu menu andalannya, tentulah sroto Sokaraja, kulineran khas Banyumas.

“Apa yang kita impi-impikan kini menjadi kenyataan,” kata Catur Dermawan menanggapi keberadaan The Banjoemas.

‘Salah dua’ motor berdirinya The Banjoemas, nantinya dirancang sebagai hub bagi alumni Unsoed dan masyarakat Banyumas di Jakarta, adalah Arief Mulyadi, alumni Fakultas Biologi 1987, dan Ketua Umum Keluarga Alumni Unsoed (KA Unsoed) Abdul Kholik, alumni Fakultas Hukum (FH) tahun 1988.

Saat ini Arief Mulyadi menjabat Dirut PT Permodalan Nasional Madani (PNM) dan Abdul Kholik sebagai senator Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Dua tokoh yang ‘dituakan’ di kalangan alumni Usoed yang kemudian menggandeng Dalu Agung, Catur Dermawan, Astera Primanto, Fernando Tua, dan beberapa nama lain, untuk merealisasikan The Banjoemas.

Mereka antara lain direktur di PT Mitra Proteksi Madani (MPM Khairul Fata (FE 1985), staf khusus Menteri Kebudayaan Fadli Zon, Annisa Rengganis (FISIP), Aan Rohaeni (FH 1997) dan Eddy Halomoan Gurning (FH 2000) yang berprofesi sebagai advokat dan kurator.

Nama lainnya adalah Bambang Mukti Riyadi (FE 1990) yang kini menjadi Deputi Komisioner OJK, Muchyat (FE 1992), Darsono (FE), Yeni Herlina (FE 1991), Putut Andriatno (FE 1994), Untung Surono (FH 1999), Muchamad Kisworo (FE 1993). Aqib Ardiansyah (Magister Administrasi Publik/MAP), dan Komunitas GenSoed,

“Kita kumpul-kumpul malam ini untuk memberikan bukti kepada para alumni yang mempelopori pendirian hub alumni Unsoed dan masyarakat Banyumas bahwa niat baik kita semua sudah siap running,” kata Ires yang juga menjadi Ketua Koperasi Bebrayan Akhsaya Soedirman, badan usaha yang menjadi payung dari kebedaraan The Banjoemas.

Malam itu juga ditandatangani kontrak kerja sama investasi The Banjoemas antara Koperasi Bebrayan Akhsaya, manajemen The Banjoemas, dan para investor. Menurut Didik Ary Prasetyo, alumni FISIP angkatan 2001, yang bertanggung jawab atas pembangunan dan operasional The Banjoemas, investasi yang dibutuhkan mencapai Rp2 miliar.

“Awalnya sih lumayan sulit. Tapi alhamdulillah dana sudah terpenuhi. Bahkan kami harus menyetop, karena belakangan banyak alumni yang ingin andil membantu pendanaan dari The Banjoemas,” kata Didik Ary yang dibantu M. Nazarudin Latif (FISIP 1997) dan Hornaning (FH 1996), dalam mengelola resto dan kafe tersebut.

Abdul Kholik mengaku keberadaan The Banjoemas menjadi penting untuk menjalin silaturahmi secara lebih solid para alumni Unsoed yang kebetulan tinggal di Jakarta dan mereka yang sekadar datang ke IbuKota.

“Saya bersyukur, rencana pembangunan The Banjoemas yang disampaikan dalam rakernas  KA Unsoed sudah terealisasi. Begitu juga dengan proyek pengembangan lembaga bimbingan belajar yang dibentuk oleh alumni, sudah berjalan di beberapa daerah,” kata Abdul Kholik.

Menurut rencana, The Banjoemas akan beroperasi penuh pada pekan ketiga Mei. Selain sroto Sokaraja, bakal tersedia kuliner seperti sup buntut, iga bakar, soto Betawi, nasi goreng, aneka mi. Tidak ketinggalan kudapan khas Banyumas seperti tempe mendoan, cimplung, dan aneka rebusan.

“Nanti, The Banjoemas, jangan sekadar jadi tempat di mana kita bisa ngomong ngapak-ngapak secara bebas. The Banjoemas ini bukti kontribusi kita kepada almamater Unsoed dan lebih luas untuk Banyumas. Harus kita jaga bersama-sama,” kata Arief Mulyadi.

Temukan Artikel Viral kami di Google News
Artikel Terkait
Terpopuler
Terbaru

Rais Aam Kiai Miftachul Ahyar dan Gus Yahya Islah, Siap Gelar Muktamar ke-35 NU Secepatnya

TENTANGKITA.CO, JOMBANG – Rais Aam Kiai Miftahchul Ahyar dan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Kiai Yahya Cholil...