Minggu, 29 Januari 2023

Siapa Willy Aditya, Si Raja Peribahasa

Awal 1998, Willy termasuk di barisan depan yang berdemonstrasi menuntut Presiden Soeharto mundur

Hot News
Share This:

TENTANGKITA.CO, JAKARTA — Beberapa bulan belakangan ini, terutama sejak Partai NasDem resmi mengumumkan Anies Baswedan sebagai bakal calon Presiden, nama Willy Aditya, seorang politikus dari partai bermarkas di Gondangdia, Jakarta, itu mencuat.

Willy muncul dengan satu kekhasan yaitu kekayaan idiom dan peribahasanya sehingga sampai-sampai presenter Rahma Sarita menjulukinya sebagai “Raja Peribahasa”.

“Kalau kamu menanam rumput, padi tak pernah akan tumbuh. Kalau kamu menanam padi, rumput juga pasti akan tumbuh,” ujar anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari daerah pemilihan Jawa Timur XI itu dalam sebuah talkshow yang digelar sebuah media online awal Januari 2023 ini.

Sontak pemwaca acara, Rahma Sarita, berkomentar. “Ini rajanya pepatah,” katanya tergelak. Memang dalam talkshow itu, salah satu Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai NasDem itu melontarkan beberapa peribahasa atau metafora.

Willy yang menamatkan sekolah dasar sampai sekolah menengah atas di Sumatera Barat itu menjawab julukan itu dengan rendah hati. “Saya dibesarkan dalam tradisi Bahasa sebagai cerminan peradaban kita,” kata pria kelahiran Solok tahun 1978 itu.

Willy selain beruntung lahir dan besar di Sumatera Barat yang kaya dengan pemikir dan sastrawan itu, dia juga menamatkan sekolah menengah atas di INS Kayutanam yang memang dikenal memiliki corak khusus untuk menggali potensi siswa. Willy sekolah di INS Kayutanam yang sudah berdiri sejak zaman penjajahan Belanda tatkala AA Navis, sastrawan penulis novel “Robohnya Surau Kami”, menjabat Ketua Yayasan.

Di sekolah yang pada Desember 2022 lalu dikunjungi Anies Baswedan itu, Willy menemukan kemampuan orasi, deklamasi, dan bahkan kepemimpinan. Willy bercerita, masing-masing siswa INS itu memiliki minat dan bakatnya sendiri. Ada yang memilih kegiatan melukis, menulis, seni rupa, teater, dan sebagainya.

Bapak tiga anak ini melanjutkan kuliah strata 1 sebagai mahasiswa undangan di Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM). Masuk UGM di tahun 1997, membuat Willy berada di pusaran gerakan mahasiswa. Awal 1998, Willy termasuk di barisan depan yang berdemonstrasi menuntut Presiden Soeharto mundur.

Pasca-Reformasi, Willy terus beraktivitas membangun gerakan mahasiswa. Dia juga memimpin demonstrasi menentang kehadiran Perdana Menteri Australia di UGM yang membuat Willy di-drop out oleh Rektor UGM saat itu. Namun akhirnya Willy berhasil menyelesaikan kuliahnya di Fakultas Filsafat UGM dengan skripsi mengenai Soekarno di tahun 2004.

Tahun 2008, Willy menyelesaikan studi S2 Defence Management, sebuah Kerjasama Institut Teknologi Bandung dan Cranfield University di Inggris. Setelah sempat “mengembara” sebagai konsultan dan peneliti di berbagai lembaga, tahun 2012, Willy ikut mendeklarasikan organisasi kemasyarakatan Nasional Demokrat di mana Anies Baswedan menjadi pembaca manifestonya.

Keikutsertaan di ormas Nasional Demokrat inilah yang menjadi perekat awal Willy Aditya dengan para deklarator lainnya termasuk Surya Paloh dan Anies Baswedan sendiri. Kini sulur mewangi antara Willy dan Anies.

“Anies adalah intelektual organik yang mendedikasikan dirinya untuk kemajuan peradaban memiliki retorika baik rekam jejak yang baik,” kata Willy suatu waktu mengenai Anies.

Share This:
Artikel Terkait
Terpopuler
Terbaru

Serangan Mini Stroke yang Sering Diabaikan Orang: Begini Tanda-tandanya

TENTANGKITA.CO – Stroke menjadi salah satu penyakit paling mematikan di seluruh dunia. Namun, orang kerap tidak sadar bahwa sebenarnya...