HARI GURU NASIONAL: Mereka yang Membentuk Kami

Hot News
Share This:

Oleh: Laksamana Muda TSNB ‘Cokky’ Hutabarat

TENTANGKITA — PAHLAWAN Tanpa Tanda Jasa. Bagi kami anak sekolahan era 1980-an, pernyataan itu benar-benar sebuah kenyataan, bukan semata syair dalam lagu Hymne Guru, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa karangan Sartono. Hymne itu memang menjadi lagu wajib yang kami nyanyikan setiap upacara di hari Senin.

Untuk mengingatkan, mungkin teman-teman sudah lupa syairnya, dan buat para ananda generasi milenial yang tidak harus menyanyikan lagu tersebut setiap ucapara di sekolah, ini lirik lengkap Hymne Guru, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa.

Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru

Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku

Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku

Sebagai prasasti terima kasihku

Tuk pengabdianmu

Engkau sebagai pelita dalam kegelapan

Engkau laksana embun penyejuk, dalam kehausan

Engkau patriot pahlawan bangsa

Tanpa tanda jasa

Bagi saya pribadi, guru kami di SMP 74 benar-benar pendidik. Mereka membentuk kami menjadi pribadi-pribadi dengan karakter yang diinginkan oleh pendidikan itu sendiri.

Tidak hanya ingin mejadikan kami para anak didiknya menjadi pintar, tetapi juga berbudi pekerti luhur.

Mereka juga tak sekadar pengajar, tetapi juga orangtua bagi kami anak sekolahan pada era tersebut. Seperti syair hymne tersebut, “Engkau sebagai pelita dalam kegelapan… Engkau laksana embun penyejuk, dalam kehausan….”

Tanpa bermaksud meninggikan sebagian guru dan mengecilkan peran guru yang lain, saya punya beberapa kenangan terhadap guru-guru di SMP 74 yang memberikan kesan mendalam di kehidupan bahkan sampai ketika saya menekuni karier sekarang.

Salah satunya adalah Pak Malau, begitu kami secara singkat memanggil guru olahraga sekaligus pelatih berbagai kegiatan olahraga terutama basket di SMP 74.

Disiplin menjadi kata kunci yang beliau tanamkan kepada kami meski terkadang dengan penyampaian yang keras.

Memang bagi sebagian siswa di SMP 74 dari berbagai angkatan, Pak Malau adalah sosok guru yang super galak. Namun, saya yakin, puluhan tahun setelah lepas dari SMP 74, kami semua merasakan langsung manfaat dari apa yang ditanamkan oleh beliau ketika usia kami masih begitu belia.

Saya ingat kejadian pada suatu hari di lapangan basket Veledrome, Pulo Asem, Jakarta Timur, ketika kami sedang berlatih basket. Sebagian dari kami sedang beristirahat sambil memperhatikan siswa lain yang sedang berada di lapangan.

Pak Malau, sambil memperhatikan para siswa yang berada di tengah lapangan, berkata kepada kami yang sedang duduk di sekelilingnya.

“Kamu perhatikan itu semua pemain basket,” kata beliau sambil menyebutkan beberapa nama dari kami.

“Anggota basket kita rata rata adalah siswa yang berprestasi di kelas…! Padahal kalian semua, dibandingkan teman yang lain, sudah kehilangan beberapa jam waktu belajar kalian untuk berlatih basket.”

Sambil menunjuk ke arah dirinya, beliau melanjutkan. “Saya sudah perhatikan ini sejak lama, sejak kakak-kakak kalian yang sekarang sudah SMA. Mengapa itu bisa terjadi…? Karena kalian tim basket. Selain sehat karena berolahraga sehingga tubuh kalian bugar, kalian sadar bahwa waktu kalian terbatas.”

Petuah Pak Malau berlanjut.

“Dengan demikian, kalian justru sangat efektif dalam memanfatkan waktu, membagi waktu kapan harus belajar dan kegiatan berolahraga. Sementara teman kalian yang tidak ikut tim basket, selain mereka tidak bugar, kebanyakan dari mereka merasa punya banyak waktu. Akibatnya mereka justru menghabiskan waktu dengan percuma, justru lupa untuk belajar dengan efektif.”

Sepulang dari latihan basket hari itu, di sepanjang jalan, saya renungkan kembali nasihat Pak Malau tadi. Saya lantas mengingat-ingat siapa saja teman teman dalam tim basket kami. Sepertinya analisis Pak Malau beralasan. Setidaknya menjadi penyemangat kami untuk tetap rajin belajar dan pandai memanfaatkan waktu.

BELAJAR MUSIK

Selain olahraga, di SMPN 74 setiap siswa wajib juga untuk bisa memainkan alat musik recorder, sejenis alat musik tiup seperti suling. Pelajaran musik menjadi pelajaran yang ditunggu-tunggu. Ada rasa bahagia setiap memainkan musik bersama di kelas.

Pak Nurdin Doloksaribu, nama guru musik kami itu. Beliau pernah bergabung dalam relawan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) sehingga beliau juga melatih kami dalam kegiatan baris berbaris.

- Advertisement -

Pak Nurdin selalu mengiringi kami yang meniup recorder dengan memainkan accordion. Bukan hanya saat pelajaran musik di kelas, pada saat upacara bendera hari Senin pun musik menjadi pengiring lagu lagu pada saat menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Pak Nurdin dengan accordion berwarna merah marun dan suara yang khas membuat suasana upacara bendera menjadi lebih khidmat.

Pelajaran seni selalu menjadi selingan, seperti embun penyegar di antara pelajaran pelajaran lainnya. Wajar saja, sebagai sekolah favorit di Jakarta Timur, proses belajar mengajar di SMP 74 begitu ketat. Apalagi, mereka yang bisa menyandang siswa SMP 74 adalah para juara kelas di tingkat SD di wilayah Jakarta Timur.

Selain pelajaran musik, seni rupa menjadi salah salah satu pelajaran yang disukai oleh para siswa juga. Adalah Pak Prio yang menjadi guru gambar kami. Oh ya, Pak Prio adalah guru dengan kemampuan mengajar di beberapa mata pelajaran. Beliau juga mengampu pelajaran Bahasa Inggris dan pendidikan ekstrakurikuler elektronika.

Saat Pak Prio mengajarkan pelajaran mengambar dengan tema perspektif, rasa kagum terhadap beliau membuka mata saya tentang konsep seni yang dipadukan dengan ilmu pengetahuan.

Pelajaran ini membuat banyak dari para siswa menjadi tertarik dengan dunia arsitektur hingga akhirnya pada saat lulus SMA kemudian mendaftarkan diri ke jurusan arsitektur, baik saat Sipenmaru (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru) maupun mendaftar di universitas swasta. Contohnya saya.

Saya ikut bermalam di rumah salah satu rumah teman di Kopo, Bandung, untuk mengikuti seleksi di Universitas Parahiyangan jurusan arsitektur selepas SMA walaupun akhirnya saya justru memilih masuk Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri) dan berkarier di Angkatan Laut.

Di SMP 74, matematika yang cenderung menjadi momok di kebanyakan sekolah, uniknya justru menjadi salah satu pelajaran favorit. Hal ini bisa terjadi karena guru matematika kami, Pak A.L. Tobing (guru matematika saya sewaktu kelas 1), mampu membawa pelajaran ini menjadi menarik.

Dengan logat Bataknya yang kental, beliau mampu ‘menyihir’ para siswa, sehingga menggemari matematika. Dasar ilmu matematika yang ditanamkan oleh Pak Tobing akhirnya membuat kami tidak anti terhadap pelajaran hitung-menghitung itu hingga akhirnya pada saat berganti guru pun kami tetap menggemari pelajaran matematika.

Tentu saja masih banyak lagi mata pelajaran yang diajarkan oleh para guru dengan cara pembawaan yang berbeda-beda, yang tidak bisa saya uraikan satu per satu.

Selain pelajaran di kelas, kami juga diwajibkan mengikuti salah satu pelajaran ekstrakurikuler seperti mengetik, tata buku, memasak, mengukir, dan elektronika.

Lalu, mungkin teman-teman akan bertanya, hubungannya dengan Anak Pancong?

Saya dengan yakin akan menjawab, mereka para guru kami di SMP 74 dan SMA 31 adalah yang membentuk karakter Anak Pancong secara tidak langsung.

Mereka yang mendidik kami sehingga sebagian besar dari kami tidak kebablasan nakal ketika berada di luar sekolah terutama saat sebagian teman-teman memilih untuk nongkrong di kafe Pancong di Rawamangun itu.

Dan saya yakin, seperti orangtua kami di rumah, para guru itu selalu menyelipkan nama kami para anak didiknya dalam setiap doa-doa mereka.

Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru….

* Tulisan ini disadur dari buku berjudul Anak Pancong: Semoga yang Tersisa Makin Bermakna yang dtulis oleh Laksamana Muda TSNB Cokky Hutabarat, kini Deputi Operasi dan Latihan Badan Keamanan Laut (Bakamla), dan kawan-kawan.

* Anak Pancong adalah komunitas anak muda era pertengahan 1980-1990-an di seputaran Rawamangun, Jakarta Timur.

Share This:
Artikel Terkait
Terpopuler
Terbaru

Ingat, Di Tempat dan Komunitas Ini Tetap Wajib Masker Lho

TENTANGKITA.CO, JAKARTA -- Pemerintah mulai melonggarkan aturan pembatasan terkait pencegahan pandemi Covid-19 dengan memperbolehkan masyarakat untuk tidak memakai masker...