Kamis, 29 September 2022

TENTANG HUKUM PELIHARA ANJING: Ketua PP Muhammadiyah Kiai Mas Mansur Malah Pelihara

Ketua PP Muhammadiyah Kiai Mas Mansur (periode 1937-1943) diketahui memelihara anjing di rumahnya.

Hot News
Share This:

TENTANGKITA.CO, JAKARTA – Video tentang anjing yang ditangkap aparat Satpol PP Aceh Singkil kemudian mati viral di media sosial.

Anjing bernama Canon, dalam video tersebut terlihat ditangkap oleh beberapa Satpol PP dengan menggunakan kayu.

Menurut pemberitaan media online nasional mengutip penjelasan pimpinan Satpol PP AcehSingkil, penangkapan anjing tersebut dilakukan terkait dengan wisata halal yang sedang dikembangkan di Pulau Banyak.

Sebenarnya bagaimana sih hukum memelihara anjing dalam Islam. Simak artikel di bawah ini yang dilansir laman resmi milik Muhammadiyah, www.muhammadiyah.or.id berikut ini…

Kendati tidak berkiblat pada satu mazhab secara khusus, Muhammadiyah tetap memiliki manhaj (lajur beragama) yang disusun secara hati-hati, musyawarah dan teliti oleh para ulamanya melalui Majelis Tarjih dan Tajdid.

Oleh karena perbedaan kaidah dan metodologi penetapan hukum (istinbath) syari’at dan fikih, Muhammadiyah adakalanya pada sebagian urusan keagamaan berbeda dengan mayoritas umat Islam di Indonesia yang bermazhab Syafi’i.

Termasuk soal masalah hukum memelihara Anjing, Muhammadiyah kerapkali lebih longgar dan berbeda dengan mayoritas penganut mazhab Syafi’I yang ketat perkara najis dan anjing.

Dalam buku Resolusi Konflik Islam Indonesia (2007) misalnya, Thoha Hamim menyebut bahwa Muhammadiyah memandang anjing bukan golongan khinzir karena itu tidak mengandung najis mughalladzah, sedangkan NU berkebalikan.

Soetjipto Wirosardjono dalam Agama dan Pluralitas Bangsa (1991) bahkan menyebut kedekatan Muhammadiyah dengan mazhab Maliki menyebabkan orang Muhammadiyah yang sudah terdidik tinggi biasanya bisa mentolerir orang yang memelihara anjing.

Tak jarang, mubaligh Muhammadiyah tercatat beberapa kali bersilang pendapat secara keras dan tajam dengan mubaligh Syafi’iyah terkait masalah anjing, sebagaimana direkam oleh Nur Syam dalam Tarekat Petani: Fenomena Tarekat Syattariyah Lokal (2013).

Penjelasan Tentang Allah Swt Bershalawat Kepada Nabi Muhammad Saw

Maka tak heran jika kerap ditemukan tokoh Muhammadiyah selaku muslim taat tetapi memelihara anjing seperti Kiai Mas Mansur, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah (periode 1937-1943).

Kiai Mas Mansur Memelihara Anjing

Darul Aqsha dalam Kiai Haji Mas Mansur, 1896-1946: Perjuangan Dan Pemikiran (2005) mencatat kisah menarik terkait murid langsung Kiai Kholil Bangkalan sekaligus murid Kiai Ahmad Dahlan ini yang memelihara anjing betina jenis Keeshond hadiah dari pemilik restoran Molenkamp langganan Sukarno di Pasar Baru, Jakarta.

Anjing Keeshond adalah ras anjing berukuran sedang dan termasuk golongan yang memiliki bulu panjang dan lebat, terutama pada bagian leher. Keputusan menerima dan memeliharanya tak ayal dipertanyakan oleh banyak tokoh agama.

- Advertisement -

Menurut Aqsha, Kiai Mas Mansur menjawab bahwa anjing adalah binatang mulia yang menemani ashabul kahfi lari dari kejaran raja zalim.

Dia juga bertanya kembali bahwa di Mekkah juga banyak anjing berkeliaran sehingga tak boleh asal menghukumi secara sepihak.

Salah satu pendiri Nahdlatul Ulama KH Abdul Wahab Hasbullah pun sempat kelimpungan dan melompat ketika bertamu ke rumah Kiai Mas Mansur, anjing Keeshond itu sengaja dilepas oleh anak Kiai Mas Mansur yakni Ibrahim.

Di kemudian hari, ketika hendak melahirkan, anjing yang biasa tidur bersama Ibrahim itu dihadiahkan kepada dr. Soeharto, staf Mas Mansur di Putera (Pusat Tenaga Rakyat) yang kemudian menjadi dokter pribadi Soekarno.

Hukum Memelihara Anjing Menurut Muhammmadiyah

Jamak diketahui bahwa kendati satu dua tokoh Muhammadiyah memelihara anjing, fakta itu hanya mampu menjadi khazanah. Bukan sumber hukum itu sendiri.

Apalagi, dalam memutuskan hukum, Majelis Tarjih menggunakan sistem ijtihad jama’iy, yang mana pendapat perorangan dari anggota majelis, tidak dapat dipandang kuat dibanding pendapat organisasi.

Dari laman www.fatwatarjih.or.id mengenai hukum memelihara Anjing, Majelis Tarjih menyimpulkan bahwa anjing boleh digunakan dalam kebutuhan penting dengan konteks manfaat seperti menjaga lahan pertanian, menggembalakan hewan ataupun berburu.

Larangan Aniaya Pada Anjing

Dalam perkembangan kontemporer, anjing boleh digunakan untuk menjaga rumah atau menjadi hewan pelacak. Oleh karena itu, agama Islam cenderung melarang memelihara anjing di luar kepentingan itu.

Jika pun memelihara untuk menjaga rumah, anjing harus diperhatikan kebersihannya agar tidak memberi bekas najis pada barang-barang di dalam dan sekitar rumah.

Akan tetapi, kenajisan anjing tidak lantas membenarkan seorang muslim berlaku zalim dan aniaya. Dalam kaidah yang lebih umum, dengan mengacu pada sumber-sumber muktabar, Majelis Tarjih mencatat Islam melarang manusia menyakiti binatang, menyiksa, atau bahkan sekadar menelantarkannya.

Islam mengajarkan bahwa berbuat baik dan lemah lembut harus dilakukan kepada siapa saja, termasuk kepada binatang seperti anjing dengan batas-batas interaksi yang dipedomani oleh fikih dan syari’at.

* Artikel ini disadur dari www.muhammadiyah.or.id dengan judul dan tautan:

Muslim Pelihara Anjing? Ini Pendapat Muhammadiyah

Share This:
Artikel Terkait
Terpopuler
Terbaru

HARI SANTRI 2022: Ini Makna Logo dan Tema Berdaya Menjaga Martabat Kemanusian

TENTANGKITA.CO – Kemenag merilis makna logo Hari Santri 2022 dengan tema Berdaya Menjaga Martabat Kemanusiaan. Silakan simak makna logo Hari...