Minggu, 26 Mei 2024

Siapa Generasi Salafus Shalih? Apakah Pemamahan Mereka Mengikat? Ini Pandangan Majelis Tarjih Muhammadiyah

Alasan para ulama itu berdasarkan fakta bahwa para sahabat adalah saksi turunnya Al Quran, memahami hikmah ayat-ayat, dan berinteraksi intens dengan Nabi.

Hot News

TENTANGKITA.CO, Yogyakarta — Pendapat terkait dengan pemahaman dari generasi salafus shalih menjadi salah satu subjek debat penting di kalangan ulama. Bagaimana pandangan Muhammadiyah?

Salafus shalih adalah generasi yang merujuk pada merujuk pada masa awal Islam yakni kalangan para sahabat Nabi, tabi’in, dan tabi’it tabi’in. Secara arti kata, salafus shalih adalah generasi terdahulu yang shalih atau sholeh.

Kedekatan generasi ini dengan Nabi Muhammad saw memberikan pemahaman agama dalam konteks yang unik.

Pertanyaannya, apakah pemahaman para salafus shalih mereka harus secara otomatis diikuti oleh generasi berikutnya?

PERBEDAAN PANDANGAN

Pendapat ulama, menurut artikel di laman muhammadiyah.or.id, bercabang mengenai relevansi pemahaman Salafus Shalih dalam panduan agama untuk umat berikutnya.

BACA JUGA: Sekum Muhammadiyah Abdul Mu’ti Sebut Konflik Palestina dan Israel Bukan Perang Agama

Sebagian ulama meyakini pemahaman dari salafus shalih sebagai hujjah syar’iyah yang sah. Jadi pandangan mereka bisa menjadi acuan ketika tak ada dalil jelas dari Al Quran, hadits, dan ijma’ (konsensus ulama).

Ulama ini menyarankan memilih satu pendapat jika pemahaman para sahabat berbeda tentang suatu hal. Alasannya, peluang kebenaran pandangan dari salafus shalih ini lebih besar dibandingkan dengan kemungkinan kesalahan.

Alasan para ulama itu berdasarkan fakta bahwa para sahabat adalah saksi turunnya Al Quran, memahami hikmah ayat-ayat, dan berinteraksi intens dengan Nabi. Jadi tidak heran kalau pemahaman salafus shalih dianggap lebih berbobot daripada generasi berikutnya.

Namun, ada pandangan sebagian ulama lain yang menekankan pentingnya mengikuti Al Quran dan hadits sebagai sumber utama panduan agama.

Pemahaman para sahabat dianggap hasil akal manusia yang bisa benar atau salah. Dalam konteks ini, ketidakpastian pemahaman bukan hanya berlaku pada para sahabat, tetapi juga pada semua orang.

BACA DEH  Yayasan Komunitas Berdaya Indonesia: Bullying di Sekolah Berdampak Panjang Bagi Mental Siswa

Perbedaaan pandangan terkait gerenasi salafus shalih ini mencerminkan esensi diskusi ulama tentang otoritas pemahaman generasi—disebut generasi terbaik oleh Nabi Muhammad—dalam agama.

Bagaimana kita seharusnya memperlakukan pemahaman mereka dalam panduan agama?

Apakah kita wajib mengikuti pendapat mereka atau lebih fokus pada Al Quran dan hadits?

Dalam merumuskan pandangan terhadap pemahaman Salafus Shalih, keseimbangan antara menghormati warisan agama dan mempertimbangkan nash-nash langsung dari Al Quran dan hadits sangat penting.

Sambil menghargai pandangan para sahabat, kita perlu sadar bahwa pengembangan pemahaman agama adalah proses kontinu yang menggabungkan warisan masa lalu dengan realitas zaman modern.

BACA JUGA: Dilarang atau Tidak Boleh Shalat Sunnah Dhuha Setiap Hari? Begini Pandangan Muhammadiyah

PANDANGAN MAJELIS TARJIH

Muhammadiyah memiliki pandangan yang terperinci mengenai status dan relevansi pendapat dari generasi salafus shalih. Pandangan Muhammadiyah terkait hal itu antara lain termaktub dalam Himpunan Putusan Tarjih (HPT) dan Kitab Beberapa Masalah.

Beberapa pendapat dalam HPT, khususnya Butir 21 tentang Usul Fiqih, memberikan panduan yang jelas mengenai status hadits mursal Tabi‘i (hadits yang tidak memiliki rantai sanad langsung dari Nabi Muhammad saw., tetapi berasal dari para tabi’in).

Muhammadiyah membedakan tiga skenario yang berbeda:

  1. Hadits mursal Tabi‘i murni tidak dijadikan hujjah
  2. Hadits mursal Tabi‘i dapat dijadikan hujjah jika terdapat indikasi kebersambungan
  3. Hadits mursal Shahabi (dari sahabat) dapat dijadikan hujjah dengan syarat ada bukti kebersambungan.

Analisis kaidah dan pandangan para ulama Muhammadiyah dalam HPT mengindikasikan bahwa pemahaman dan pandangan para sahabat dan tabi’in tidak dianggap sebagai dalil yang mutlak mengikat.

Pemahaman ini berakar pada prinsip bahwa mengamalkan pendapat mereka diperbolehkan selama tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip al Quran dan as-Sunnah.

BACA DEH  Yayasan Komunitas Berdaya Indonesia: Bullying di Sekolah Berdampak Panjang Bagi Mental Siswa

BACA JUGA: Pendapat Muhammadiyah Apakah Nabi Isa akan Turun (Lagi) Ke Bumi dan juga Tentang Dajjal dan Imam Mahdi

Kesimpulan yang dapat ditarik adalah bahwa Muhammadiyah tidak melarang umatnya untuk mengikuti atau mengamalkan pemahaman dan amalan yang berasal dari generasi salafus shalih.

Namun, keyakinan ini harus selalu dikendalikan oleh prinsip-prinsip ajaran Islam yang lebih tinggi. Amalan dan pandangan dari generasi salafus shalih dapat dijadikan pedoman, selama sesuai dengan panduan al Quran dan as-Sunnah.

Temukan Artikel Viral kami di Google News
Artikel Terkait
Terpopuler
Terbaru

KERUSUHAN MEI 1998 (1): Tawar Menawar ABRI vs DPR, Soeharto Mundur

TENTANGKITA.CO, JAKARTA - Kerusuhan Mei 1998 adalah peristiwa kerusuhan massa, demonstrasi anti-pemerintah, dan pembangkangan sipil di Indonesia pada bulan Mei...