Minggu, 2 Oktober 2022

NGAJI BUYA ARRAZY: Begini Adab Imam Malik Terhadap Makam Nabi

Ngaji Buya Arrazy kali ini melanjutkan pembahasan tentang hadits orang bermimpi bertemu Nabi Muhammad dan kisah Imam Malik menghormati makam Nabi.

Hot News
Share This:

TENTANGKITA, JAKARTA – Ngaji Buya Arrazy kali ini melanjutkan pembahasan tentang hadits orang bermimpi bertemu Nabi Muhammad dan kisah Imam Malik menghormati makam Nabi.

Di pembahasan sebelumnya, Buya Arrazy menjelaskan tentang empat hadits shahih yang berkaitan dengan orang yang bermimpi bertemu Nabi Muhammad. Silakan klik tautan di bawah.

NGAJI BUYA ARRAZY: 4 Hadits tentang Mimpi Bertemu Nabi

Selanjutnya, Buya Arrazy menceritakan tentang bagaimana adab Imam Malik yang hidup pada zaman akhir para tabi’in terhadap Nabi yang saat itu sudah meninggal. Imam Malik bin Anas lahir sekitar 90 Hijriyah dan wafat 179 Hijriyah dan tinggal di Madinah.

“Beliau adalah pembelajar hadits. Beliau ketika mendengarkan satu hadits kemudian mengistikharahkannya dan membahasnya terlebih dulu. Jika haditsnya dianggap shahih, baru beliau tuliskan dalam satu kitab yang namanya Muwatha.”

Buya Arrazy kemudian bercerita bagaimana Imam Malik begitu menjaga adab kepada Nabi. Pernah suatu ketika ada muridnya datang untuk meminta penjelasan tentang suatu hadits padahal saat itu Imam Malik sedang sakit.

“Orang sakit tentu lebih enak (kalau) tidur, rehat. Tapi karena yang datang itu bertanya (tentang) hadits Nabi, beliau mengatakan ‘tunggu sebentar, sejenak, aku ingin mandi dulu, dan ganti baju’. Karena orang sakit biasanya berkeringat dan badannya bau. Beliau mandi, lalu beliau kemudian pasang harum-haruman dan menggunakan baju yang bagus.”

Setelah itu barulah Imam Malik membacakan hadits-hadits yang diinginkan orang itu. “Maka beliau mengatakan, ‘kalian ini ingin mengkhatamkan dalam tiga hari, dalam tiga waktu, tiga jam, hadits-hadits yang dulu yang kami dapatkan 30 tahun’. Yang kita sebut sekarang dengan khataman, ijazahan.

Tapi Imam Malik tetap memberikan penjelasan tentang hadits itu. “Beliau gemes, geregetan tapi juga cinta kepada muridnya. Lalu hadits itupun beliau ijazahkan, beliau bacakan, beliau sampaikan kepada murid-muridnya.”

Adab Imam Malik terhadap Nabi yang saat itu sudah meninggal digambarkan dalam cerita selanjutnya oleh Buya Arrazy.

Apabila Imam Malik mengajar di Masjid Nabawi, menurut Buya Arrazy, punggung beliau tidak pernah membelakangi kuburan Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu selalu menjadikan makam Nabi di bagian kanannya.

“Karena bagi beliau itulah adab kepada Nabi. Nabi hidup, Nabi meninggal, bagi Imam Malik sama. Apakah Imam Malik orang yang suka khurafat? Apakah Imam Malik seorang kuburiyyun?”

Jika kuburiyyun itu artinya orang yang menghormati yang mencintai orang yang di dalam kubur bernama Sayyidina Muhammad, kata Buya Arrazy, maka “Imam Malik lah sayyidul kuburiyin, pemimpin (kaum) kuburiyyin.”

Karena kecintaan Imam Malik kepada sosok yang dikubur yakni Nabi Muhammad, menurut Buya Arrazy, Allah memberikan kemulian kepada beliau yang masuk ke dalam alam bahwa sadar beliau.

“Seperti diceritakan oleh Abu Naim, Imam Malik berkata ‘tidaklah aku tertidur malam hari melainkan aku memandang wajah Nabi. Tidaklah aku terlelap sesaat melainkan aku melihat wajah Nabi. Begitu cintanya kepada Nabi sehingga dalam tidurpun, tidak ada beliau tidur kecuali melihat wajah Nabi’.”

- Advertisement -

CERAMAH LENGKAP BUYA ARRAZI

NASIHAT USTADZ ADI HIDAYAT: Dunia Tempatnya Capek (Surat Ad Dhuha)

PROFIL BUYA ARRAZY HASYIM

Buya Dr Arrazy Hasyim MA dilahirkan di Koto Nan Ampek Payakumbuh pada 21 April 1986.

Sebelum belajar dengan ulama luar negeri, di dalam negeri ia pernah belajar ilmu Tauhid dan Tasawuf  dari Syaikh Buya Hasan Basri Dt. Sati Piladang, Syaikh Mawlana Muhammad Nuruddin dan Syaikh Kasril Koto Nan Ampek.

Selain itu, ia juga belajar Kitab Ihya’ Ulum al-Din dan al-Hikam dari Buya Nu’man Basyir Koto Nan Gadang.

Setelah itu, di Jakarta ia belajar 6 kitab hadis (Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan al-Tirmidzi, Sunan al-Nasa’I, dan Sunan Ibn Majah) selama 4 tahun kepada Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub, MA.

Pada tahun 2006, 2007, dan 2008 sempat belajar dengan ulama-ulama Syiria dan India.

Buya Arrazay belajar Tauhid dan Ushul al-Fiqh dari Syaikh Prof. Dr. Muhammad Hassan Hitou, Fiqh dan Ushul al-Fiqh dari Syaikh Prof. Dr. Taufiq bin Muhammad Sa’id Ramadan al-Buthi.

Dia juga belajar Hadis dan Ilmu Hadis dari Syaikh Dr. Badi‘ Sayyid al-Lahham, Nahw dan Sharf dari Syaikh Dr. Ayman Syawwa.

Ulama muda ini mendapatkan Ijazah Kutub al-Sab‘ah dari Syaikh Prof. Dr. Khoja Muhammad Syarif Haydar Abad, Ijazah ‘Ammah dan Khashshah kitab-kitab dan ilmu keislaman dari Syaikh Abd al-Rabb al-Nazari, Zikrullah Rajali, Barakatullah al-Banjari, Amin al-Kurdi, Muhammad Aswad, Hisyam Kamil dan lainnya.

Buya Arrazy kemudian menempuh pendidikan formal S2 di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta yang selesai 2009. Kemudian, pada 2017 Buya Arrazi menyelesaikan studi doktoral S3 di Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah.

Kini Buya Arrazy Hasyim tercatat sebagai dosen di Pascasarjana Institut Ilmu al-Qur’an (IIQ) Jakarta. Dua sempat mengajar ilmu Kalam dan Filsafat Islam di Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada tahun 2012 sampai dengan 2019.

Dia juga aktif sebagai pengajar kitab Aqidah Ahlus Sunnah dan hadits Sunan An-Nasa’i dan Ibnu Majah di Pondok Pesantren Darussunnah. Pada akhir 2018, BuyaArrazy mendirikan Ribath al-Nouraniyah di Tangerang Selatan, takhassus Ilmu Akidah Ahlus Sunnah dan Tasawuf.

  • Demikian Ngaji Buya Arrazy tentang bagaimana adam Imam Malik terhadap Nabi Muhammad termasuk pembahasan tentang hadits orang berimpi bertemu Nabi.
Share This:
Artikel Terkait
Terpopuler
Terbaru

Sebanyak 7 Juta Buruh Belum Terima BSU 2022, Kapan Nih Bu Menteri Ida 

 TENTANGKITA.CO, JAKARTA – Pemerintah sudah memberikan Bantuan Subsidi Upah atau BSU 2022 pada sebanyak  7,07 orang pekerja yang masing-masing...