Minggu, 29 Januari 2023

Willy Aditya dan INS Kayutanam yang Menginspirasi Hidupnya

Hot News
Share This:

Oleh Fauzan Mufid

TENTANGKITA.CO, JAKARTA — Politikus Partai NasDem Willy Aditya memiliki kisah yang mendalam mengenai sekolah menengah atasnya dulu, INS Kayutanam. Sekolah bercorak khusus yang terletak di Kayutanam, 40 kilometer dari Kota Padang, itu telah meletakkan pondasi penting dalam hidupnya.

INS Kayutanam didirikan oleh Engku Muhammad Sjafei, seorang tokoh Pendidikan yang pernah menjadi Menteri Pengajaran Indonesia di masa Kabinet Sjahrir II. INS dan Sjafei, kata Willy, ikut membentuk cara pandangnya tentang Pendidikan dan juga Indonesia.

Willy menceritakan kisah Engku Sjafei yang menginspirasinya itu. Alkisah, di sebuah malam di kamar asrama Kweekschool (Sekolah Guru) di Bukittinggi, seorang pemuda terlihat asyik melukis. Tanpa disadari, seseorang lelaki setengah baya berdiri mengamatinya di depan pintu.

“Kamu sekarang di sekolah guru, bukan di sekolah gambar!” Pemuda itu kaget bukan main saat mendengar suara berat yang sangat dikenalinya itu menegur. Rupanya Direktur Kweekschool sendiri yang menegurnya.

Teguran yang terjadi pada Agustus 1914 itu tak pernah pupus dari ingatan M. Sjafei, pemuda yang kepergok menggambar itu. Peristiwa itu terjadi saat Kweekschool akan menggelar ujian kelulusan bagi siswa angkatan terakhir, namun Sjafei mengaku, hal itu tidak membuyarkan minat melukisnya yang sedang memuncak. Hasratnya menggebu-gebu, ingin menjadi seperti Raden Saleh, pelukis legendaris dari Jawa di era Kolonialisme abad XVIII.

Sjafei yang lahir di Ketapang, Kalimantan Barat, itu sempat dua kali mengajukan permohonan pada direktur untuk pindah ke sekolah menggambar. Tapi ditolak. Toh, niatnya pada seni rupa tak jua surut. Inspektur sekolah pernah menghardiknya “pemalas” saat ditanya soal rencananya ke depan. Sjafei menolak setiap tawaran darinya untuk melanjutkan pendidikan (ke sekolah kedokteran hewan dan pertanian di Bogor misalnya).

Saat yang bersamaan, Perang Belasting sedang berkecamuk di ranah Minang. Belasting adalah hukum perpajakan yang diberlakukan kolonial Belanda sejak 1908 terhadap tanah milik rakyat. Darah muda Sjafei yang rajin membaca karya-karya Douwes Dekker, Dr. Tjipto Mangunkusumo, dan Ki Hajar Dewantara itu bergejolak. Terlebih setelah membaca “Als Ik Eens Nederlander Was” (Jika Aku Orang Belanda) karya Ki Hajar Dewantara di harian De Express.

Pemikiran tiga serangkai pendiri Budi Utomo itu menghidupkan minatnya terhadap pergerakan. Ia makin sadar, di pelbagai daerah, Kolonialisme Belanda selalu dilawan: meski tak melulu dengan letusan bedil dan ayunan pedang, tapi juga goresan pena.

Dinamika itu, ungkap Prof. Dr. H. A. R. Tilaar, pakar pendidikan, mendorong Sjafei hijrah ke Batavia dan menjadi guru di Bataviasche Kartinischool. Demi tetap menyalurkan bakat melukis, Sjafei mendaftar ke Kuntskring, sekolah yang didirikan para seniman Belanda. Tapi, seiring menguatnya minat terhadap pergerakan, ia (bersama Marah Sutan, bapak angkatnya) bergabung dalam Budi Utomo, seraya mengelola Harian Pemitraan dan majalah Suluh Peladjar.

Dalam kongres Budi Utomo di Bandung, Agustus 1915, Sjafei mengusulkan mosi parlemen untuk pribumi pada rezim kolonial, dan diterima kongres. Tak lama, Sjafei menarik diri dari Budi Utomo. Pada 1916, bersama Alimin, Sjafei menggagas Insulinde cabang Jakarta, sekaligus melakukan gebrakan: menyerang praktik perburuhan kolonial!

Dalam Kongres Insulinde di Semarang (1917), Sjafei menyuarakan penghapusan penale sanctie (sanksi pidana dalam hubungan perdata buruh-pemberi kerja) yang menurutnya sebentuk “perbudakan modern untuk kesenangan kapitalis”. la lantas menawarkan sistem kerja merdeka.

Sejak itu, ia dipercaya Insulinde mengurusi cabang di luar Jawa. Dari kiprahnya selama ini, Sjafei menyimpulkan, masalah utama pribumi jajahan adalah pendidikan. Kebijakan politik etis Belanda yang selama ini mendasari proses pendidikan tak lebih dari mencetak pegawai pemerintah (ambtenaar) dan kuli murah. Pengetahuan yang dipelajari cuma sebatas tulis, baca, dan hitung.

“… Kami berkeyakinan… partai politik baru kuat, kalau anggotanya mempunyai ideologi politik. Kalau tidak, ia tidak bisa menghadapi penjajahan dengan baik. Keyakinan ini mendorong kami untuk mendirikan perguruan, di mana dilakukan pembentukan kader-kader untuk gerakan nasional Indonesia, mencapai tujuan, yaitu kemerdekaan,” ujarnya.

Pada 31 Mei 1922, Marah Sutan meminta Sjafei melanjutkan pendidikan ke Belanda dengan dua misi utama, menambah sebanyak mungkin ilmu kejuruan yang perlu bagi pendidikan dan pengajaran dan menyelidiki dan meninjau mengapa bangsa Belanda yang negaranya kecil, bisa berlama-lama menjajah Indonesia. Di Belanda, Sjafei bergabung dengan Perhimpunan Indonesia yang didirikan Moh. Hatta.

- Advertisement -

Suatu hari, Hatta terheran-heran melihat Sjafei. Saat rata-rata pelajar Indonesia sibuk bergiat dalam organisasi dan politik, Sjafei malah menekuni kerajinan tangan. Ia juga kerap mengunjungi sentra-sentra industri. Menurut Prof. Tilaar, Sjafei bahkan sempat ke Jerman dan berjumpa Kerschensteiner (tokoh pendidikan yang mengembangkan Arbeitschule atau sekolah kerja). Dasar pemikirannya, ilmu akademik tak terpisah dari keterampilan.

“Malah Kerschensteiner bilang, dengan mengasah keterampilan, daya intelektual dengan sendirinya akan berkembang,” terangnya.

Sjafei benar-benar kepincut Arbeitschule. Pasalnya, lanjut Tilaar, ia tahu betul, kultur Minangkabau senapas dengan model pendidikan itu karena menganut sistem matrilineal (garis keturunan Ibu berikut system pewarisannya). Dalam sistem ini, anak lelaki akan “terusir” dari rumah ibu menjelang remaja dan tinggal di surau bersama teman sebaya, untuk kemudian, setelah cukup umur, pergi merantau. Karena sedari kecil sudah terbiasa berkonflik, mereka punya potensi kreatif dalam memecahkan masalah.

Bagi Sjafei, pendidikan semestinya membebaskan potensi kreatif itu. Dalam kultur Minangkabau, potensi ini sangat besar, karena sesuai falsafah di sana, “Alam takambang jadi guru (alam terkembang jadi guru).” Sjafei lalu menyusun kurikulum berbasis tiga properti kemanusiaan: otak, otot, dan hati. Itulah, ujar Prof. Tilaar, yang kini diistilahkan afeksi (emosional), kognisi (intelegensia), dan psikomotorik. Jadi, sekolah versi Sjafei itu sama sekali vis-a-vis sistem kolonial.

Sepulang dari Belanda, Sjafei mendirikan Indonesisch Netherlandche School (INS), 31 Oktober 1926, di Kayutanam, dengan menyewa rumah penduduk untuk menampung 79 murid. Menurut Willy Aditya yang lulus di INS tahun 1997, untuk mendanai operasional INS, Sjafei bermitra dengan organisasi buruh kereta api (VBPSS) dan pekerja tambang (selain pula dari kocek para perantau Minang “Medan Perdamaian” di Jakarta).

“Sjafei menolak segala subsidi maupun bantuan pihak kolonial, karena menurutnya, pendidikan itu tanggungjawab masyarakat,” kata laki-laki penggemar kopi yang lalu melanjutkan S1 di Universitas Gadjah Mada dan S2 di ITB-Cranfield University itu.

Sjafei juga, kata Willy, pernah menyatakan, “Lebih baik jadi tuan kecil daripada budak besar!”

Entah disadari atau tidak oleh Sjafei, INS ternyata memang tidak mencetak calon budak, melainkan calon penghasil gilda (bengkel ahli) yang nun di daratan Eropa sana menjadi titik tolak revolusi industri. INS bertujuan menghidupkan jiwa entrepreneurship (kewirausahaan), yang maknanya tidak semata kegiatan ekonomi, tapi juga daya kreatif untuk berinovasi di semua bidang sosial. Pilihan bermitra dengan serikat buruh, bagi Sjafei, bukan cuma soal sumbangan tapi juga menandakan betapa vital peran mereka sebagai wakil industri dominan saat itu di Sumatera Barat.

INS benar-benar menjadi eksperimen pendidikan alternatif yang mendahului zamannya. Soal biaya sekolah, honor guru, dan buku pelajaran, Sjafei menggalang sendiri dari aktivitas siswa. Seperti pertunjukan sandiwara, penjualan hasil kerajinan, dan pertandingan sepak bola, seperti pernah ditulis A. A. Navis dalam bukunya “Filsafat dan Strategi Pendidikan M. Sjafei”. AA Navis belakangan hari menjadi Ketua Yayasan INS Kayutanam.

Sjafei sendiri pernah diundang Ki Hajar Dewantara ke Taman Siswa untuk berceramah seputar sistem pendidikan INS Kayutanam. Selepas itu, Ki Hajar berkomentar, jika Taman Siswa disebut zending school (sekolah misionaris), maka INS Kayutanam adalah arbeitschule (sekolah kerja).

Sjafei sempat menjabat Menteri Pengajaran Indonesia yang kedua, setelah Ki Hajar Dewantara yang pertama. Dari rekam jejak pendiri sekolahnya itu, Willy menyatakan Sjafei adalah founding father yang ikut mewarnai sejarah pendidikan Indonesia. Sjafei mengajarkan kemandirian lewat contoh nyata. Kemandirian ini menjadikan INS masa awal-awal keberadaannya berstatus non-diploma atau nongelar.

“Diplomamu,” ujar Sjafei pada murid-muridnya, “adalah kemampuanmu berdiri sendiri dalam masyarakat tanpa menggantungkan hidupmu pada lowongan di kantor-kantor pemerintah kolonial.”

Karenanya, tak berlebihan jika selain Taman Siswa, Sekolah INS Kayutanam, tutur Prof. Tilaar, adalah mutiara yang pernah dihasilkan sejarah pendidikan Indonesia

Willy yang menjadi kini menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari daerah pemilihan Jawa Timur XI itu berharap, semangat INS Kayutanam ini bisa dikontekstualisasi di masa sekarang. “Harapannya, ini menjadi cikal bakal terjalinnya hubungan dunia industri dengan pendidikan, sekaligus menggairahkan kewirausahaan INS.

Konsep ini mirip dengan link and match yang baru getol diprakarsai oleh pemerintah Indonesia awal tahun 90-an. Lalu, kalau ada link and match antara pendidikan dengan industri, kenapa tidak dengan dunia politik? Kampus mestinya menjadi penyalur langsung terciptanya kader yang berkualitas untuk partai politik,” kata Willy.

Share This:
Artikel Terkait
Terpopuler
Terbaru

Serangan Mini Stroke yang Sering Diabaikan Orang: Begini Tanda-tandanya

TENTANGKITA.CO – Stroke menjadi salah satu penyakit paling mematikan di seluruh dunia. Namun, orang kerap tidak sadar bahwa sebenarnya...